https://professorspeedy.com/wp-admin/options-general.php?page=header-footer/admin/options.php

Feminisme berasal dari kata Latin femina, yang kemudian diterjemahkan ke dalam b

Place your order now for a similar assignment and have exceptional work written by our team of experts, At affordable rates

For This or a Similar Paper Click To Order Now

Feminisme berasal dari kata Latin femina, yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris femine, artinya memiliki sifat-sifat seorang wanita. Secara umum, feminisme sering diartikan sebagai gerakan perempuan yang menyerukan kesetaraan antara perempuan dan laki-laki. Kata feminisme pertama kali dicetuskan oleh para aktivis sosial utopis (Ternate, 2019). Secara analitis, istilah feminisme merujuk tidak hanya pada proses transformasi, tetapi juga pada perubahan dan ketidakstabilan konsep diri, identitas, dan kesadaran perempuan.
Pada umumnya, perempuan selalu digambarkan sebagai sosok yang bermasalah dengan tubuhnya. Pandangan ini membentuk kehidupan seluruh kebudayaan manusia selama puluhan tahun dan kemudian mendapat legitimasinya dari agama-agama besar dunia seperti Yahudi, Kristen dan Islam, atau mungkin agama-agama lain (Khoirul Faizain, 2012), oleh karena itu Gerakan Feminisme ini muncul.
Berbicara tentang gerakan perempuan tidak dapat dilepaskan dari konsep gerakan itu sendiri, yaitu gerakan sebagai proses sosial. (1) mengasosiasikan hubungan konfliktual dengan oposisi yang jelas, (2) menghubungkan orang-orang dalam jaringan informal, dan (3) mengorganisir massa dengan identitas kolektif yang berbeda (Sulasmi, 2022).
Gerakan Feminisme merupakan perangkat transformasional yang kompleks dan berlapis-lapis dari praktik politik dan etika, elemen dari yang mungkin saling bertentangan dan bersinggungan dengan praktik-praktik transformasional lainnya, seperti perjuangan melawan penindasan atas dasar dikelas, ras, etnis dan preferensi seksual. Proses feminis terletak di persimpangan dari material dan ideologis (Saskia Wieringa, 2002).
Gerakan feminisme tidak pernah mengalami persatuan dan kesetaraan di dunia ini. Ada model yang berbeda antara satu negara dan satu budaya, bahkan yang ambivalen, antara negara dan budaya lain (Sujati & Ilfa Harfiatul Haq, 2020). Salah satunya sejarah pergerakan perempuan di Indonesia yang memiliki kesamaan dengan pergerakan perempuan di negara-negara yang mengalami kolonialisme oleh negara-negara Barat (Jovani, 2014).
Secara umum gerakan perempuan sebagai gerakan sosial tidak muncul secara tiba-tiba, tetapi merupakan perkembangan sosial dengan perasaan takut dan keinginan individu yang ingin berubah dan kemudian bersatu dalam aksi bersama (Robbi Kurniawanti Penulis & Kumalasari, 2016).
Pada saat penindasan ini juga terjadi di Indonesia, sebelum Indonesia merdeka, beberapa perempuan aktif telah menekankan keunggulan gender dengan menuntut kesetaraan pendidikan bagi perempuan, seperti yang dilakukan oleh Kartini dan Dewi Sartika (Saskia Eleonora Wieringa, 2010).
Berbagai upaya telah dilakukan untuk memfasilitasi mobilitas perempuan di berbagai bidang sosial. Namun pada kenyataannya, tampak bahwa ketidaksetaraan gender dan ketidaksetaraan dalam akses dan kesempatan untuk berpartisipasi dan memperoleh manfaat dari pembangunan masih sering terjadi dan perempuan dirugikan (Sulasmi, 2022). Dalam Pergerakan Nasional, perempuan menghadapi dua persoalan. Pertama, feodalisme, yang mereka tanggapi dengan pendidikan sekitar tahun 1913, organisasi perempuan menuntut agar perempuan diperbolehkan bercerai, membatasi pernikahan dini, dan tidak dipaksa oleh orang tuanya untuk menikah di usia muda. Kedua, krisis politik-ekonomi akibat kolonialisme tampaknya tidak dapat diselesaikan dengan baik oleh kebijakan-kebijakan yang ditujukan untuk memperbaiki kondisi sosial, seperti kebijakan pendidikan bagi masyarakat pribumi, yang dikenal dengan etika politik pemerintah kolonial Belanda (Aripurnami, 2013).
1. Lintas sejarah dan dinamika gerakan Feminisme di abad pertengahan dan Pemikiran Barat
Bermula pada Abad Pertengahan kelahiran tokoh-tokoh besar seperti Plato dan Aristoteles diikuti oleh Santo Aguatin dan Thomas de Aquinas, bagi John Locke, Rousseau dan Nietzsche pada zaman modern ini kedudukan perempuan tidak pernah dianggap setara dengan laki-laki. Perempuan disebut sebagai budak, yang dianggap lemah secara fisik dan mental. Pendeta gereja juga menyalahkan wanita atas nasib buruk dan sumber ketidakbahagiaan sampai berlanjut pada abad yunani kuno, perempuan masih belum diklasifikasikan dalam atribut kualitatif yang sama dengan pria. misalnya dengan lemahnya kekuatan perempuan (Sulasmi, 2022).
Gerakan feminis di Barat merupakan respon dan reaksi terhadap situasi dan kondisi kehidupan masyarakat Barat. Penyebab utamanya adalah pandangan sepihak terhadap perempuan (misogini), perbedaan stereotip perempuan dan perbedaan citra negatif yang diekspresikan dalam nilai-nilai sosial, budaya, hukum dan politik (Khoirul Faizain, 2012)
Khoirul mengungkapkan bahwa akibat dari kecaman dari kaum laki-laki pada masa abad pertengahan dan yunani membuat peranan perempuan dalam ruang lingkup sosial dibatasi. Kaum perempuan juga tidak dibenarkan untuk ikut campur dalam urusan laki-laki. Perempuan juga mendapatkan perbedaan atas wilayah operasional berupa wilayah publik dan privat. Jika laki-laki mendapatkan haknya sebagai warga Negara dan dapat membuat keputusan publik, namun tidak sebaliknya dengan kaum perempuan yang tempatnya hanya di dalam rumah (Khoirul Faizain, 2012).
Sebagai landasan pemikiran/teori, feminisme selanjutnya terbukti eksistensinya pada era liberalisme di Eropa dan Revolusi Prancis pada abad ke-18, yang gaungnya kemudian melanda Amerika Serikat dan seluruh dunia. Pada tahun 1792 Mary Wollstonecraft (1759-1799) menulis artikel ″A Vindication of the Rights of Women″, yang isinya dapat diambil sebagai dasar prinsip-prinsip feminisme selanjutnya (Hidayatullah.com).
Gambaran situasi rumah tangga di Eropa Barat ditampilkan, di mana peran ideal perempuan selalu didefinisikan sebagai istri konvensional dan juga sebagai budak seks. Kedudukan perempuan tidak berubah sedikit pun dibandingkan dengan posisi ibu dalam struktur kehidupan sosial, sangat sulit bagi perempuan untuk memiliki peran dan hak selain ibu sekalipun sebagai warga negara. Kondisi ini juga ditemukan pada beberapa karya sastra lama berlatar Belanda (Ann Taylor Allen, 2005).
Tentunya posisi ini menuai kritik dan penolakan keras dari serikat feminis Eropa, terutama di Prancis dan Inggris, yang mengatakan bahwa menjadi ″ibu″ tidak sepenuhnya ″manusiawi″ (Ann Taylor Allen, 2005).
Allen mengatakan bahwa keadaan ’biopower yang dibuat oleh para penguasa yang dibuat untuk sebagai bentuk sikap kepatuhan masyarakat melalui standar etika ternyata menjadi sebuah pengetahuan serta budaya yang mendukung sepenuhnya atas aturan tersebut (Stoler, 1995).
Dinamika munculnya gerakan perempuan di Indonesia dalam masa Kolonial Belanda
Pertumbuhan gerakan perempuan di Indonesia dapat ditelusuri sejak hadirnya abad ke-19 atau sekitar tahun 1890. Pada masa ini gerakan perempuan mulai terukur karena gerakan tersebut mulai berjuang melalui organisasi modern atau yang mempunyai peraturan tertulis seperti ketetapan dan tata cara, yang berisi pembagian kerja antara anggota pengurus, hak dan kewajibannya, dll. dan pada masa inilah kesadaran perempuan mulai menggeliat (Aripurnami, 2013).
Pada masa kolonial ketika feodalisme masih sangat kuat, perempuan terkurung di dalam rumah dan ditekankan pada memasak, memasak atau pekerjaan rumah membuat perempuan buta terhadap dunia intelektual. Anak perempuan ditolak sekolah setelah pubertas, ditolak sama sekali bahkan untuk anak-anak Indonesia non-bangsawan. Akibatnya, anak perempuan tidak hanya buta huruf tetapi juga minim pengetahuanu (Aripurnami, 2013)
Tragisnya, membangun peran perempuan dalam masyarakat melibatkan jaminan reproduksi biologis dan sosial dalam mempersiapkan pekerja baru. Dan, pada awal Pergerakan Nasional, kekuasaan ini dimanfaatkan oleh kapitalisme kolonial untuk menjadi comfort women bahkan wanita penghibur (Aripurnami, 2013).
Oleh karena itu, gerakan perempuan Indonesia memulai proses pendidikan bagi perempuan. Pada tahun 1830-an dan 1840-an, dengan dihapuskannya perbudakan, hak-hak perempuan mulai diperhatikan, jam kerja dan upah mulai diperbaiki, dan perempuan diberi kesempatan untuk mengikuti pendidikan dan hak memilih yang hanya dinikmati perempuan. Kedudukan perempuan yang ideal pada saat itu adalah bukan lagi menjadi ibu rumah tangga, namun juga mampu untuk bekerja diluar rumah (Khoirul Faizain, 2012).
Pada tahun 1946, Kongres Wanita Indonesia kembali, menyatakan kesetaraan dalam upah, menyempurnakan hukum perkawinan dan hakekat pendidikan bagi perempuan. Perempuan Indonesia harus mendukung Indonesia Merdeka, bergabung dengan angkatan bersenjata dan bergabung dengan gerilyawan, hingga Belanda akhirnya dikalahkan pada tahun 1949 (Djoeffan, 2001).
Gerakan Perempuan di masa Pendudukan Jepang (1942)
Selama tiga setengah tahun (1942-1945) jepang menduduki Indonesia. Setelah Jepang menyerah telah banyak perubahan yang terjadi yang bisa terjadinya revolusi Indonesia (Ricklefs, 2011). Kemudian, pada masa pendudukan Jepang, para pemuda Indonesia mendapatkan kesempatan untuk belajar dan berlatih militer yang terhimpun dalam PETA. Pada masa pendudukan Jepang, perempuan Indonesia sangat dikit sekali untuk mendapatkan kesempatan, karena perempuan pada saat itu dalam pengawasan yang sangat ketat dari kempetai Jepang.
Pada masa pendudukan Jepang, perempuan Indonesia sangat dikit sekali untuk mendapatkan kesempatan, karena perempuan pada saat itu dalam pengawasan yang sangat ketat dari kempetai Jepang. Pada saat itu didirikanlah Gerakan Tiga A dan Gerakan Istri Tiga A yang dipimpin oleh Ny. Artinah Syamsuddin untuk memenuhi perintah dari Pemerintahan Jepang. Gerakan yang dibentuk tersebut beranggotakan oleh para puteri sehingga diberi nama Barisan Putri Asia Raya. Pada bulan Maret 1943 terbentuknya PUTERA, kemudian di bentuk juga barisan pekerjaan perempuan PUTERA, yang merupakan diantaranya adalah perempuan (Manus, 1985)
Selain gerakan tersebut, pemerintah Jepang membentuk organisasi perempuan yang bernama Fujinkai. Dengan berdirinya organisasi tersebut bertujuan untuk menampung berbagai kegiatan yang dilakukan para perempuan, (Panitia Kongres Wanita Indonesia, 1986). Pada tahun 1944, pemerintahan Jepang semakin dilawan oleh para sekutu, dengan begitu pemerintah Jepang mempersiapkan lembaga-lembaga pertahanan. Pemerintah Jepang juga membentuk sebuah pasukan barisan Srikandi yang merupakan bagian dari Fujinkai. Pasukan tersebut dipersiapkan secara matang, karena pasukan ini merupakan pasukan untuk bertempur melawan para sekutu (Sondarika, 2017).
Pada masa pendudukan Jepang akan berakhir, keadaan Indonesia semakin sulit, makanan dan minuman pun sulit untuk didapat. Terlebih lagi Romusha telah menyebar ke daratan Asia yang memperkerjakan manusia secara paksa, maka dengan begitu banyak manusia yang hilang begitu saja karena kurangnya perhatian dari pemerintah. Dalam mengatasi hal ini, fujinkai turun langsung ke lapangan untuk menyampaikan kepada ibu-ibu rumah tangga untuk bekerja keras melakukan kampanye penghematan. Fujinkai juga ikut turun dalam menangani masalah di bidang persawahan dan penanaman padi, serta penanaman kapas dan jarak.
Hal inilah yang berkaitan dengan konflik feminisme dan juga gerakan perempuan yang mendukung adanya emansipasi di segala bidang termasuk menolak adanya poligami, dan juga memberikan pendidikan yang layak kepada para perempuan Indonesia.
Pemerintah Jepang pada saat itu hanya memperbolehkan satu organisasi perempuan yaitu fujinkai yang bergerak dalam mengatasi permasalahan pendidikan, dan juga berperan dalam kegiatan sosial yang bertujuan untuk memberikan pembinaan terhadap perkembangan organisasi tersebut. (kosasih). Dengan membubarkan fujinkai, para perempuan membentuk barisan sendiri yang bertujuan untuk memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan. Pengalaman selama bergabung di organisasi fujinkai digunakan dengan sebaik-baiknya dalam memperjuangkan kemerdekaan (Sondarika, 2017). Dalam aktivitasnya, fujinkai memperoleh pelatihan yang dapat membantu keterampilan para perempuan Indonesia. Hal inilah yang berkaitan dengan konflik feminisme dan juga gerakan perempuan yang mendukung adanya emansipasi di segala bidang termasuk menolak adanya poligami, dan juga memberikan pendidikan yang layak kepada para perempuan Indonesia (Aditia et al., 2022).
Organisasi dan peranan gerakan feminism di Indonesia pra kemerdekaan
Organisasi-organisasi gerakan perempuan di Indonesia telah membawa perkembangan yang ada di dalam sejarah feminisme, yang ada terbagi menjadi 2 gelombang. Dimana gelombang pertama berlangsung pada tahun 1860-1920, sedangkan gelombang kedua terjadi sekitar tahun 1960-1970an. Perkembangan feminisme ini telah menyebar dan berkembang di negara-negara Barat dan negara-nefara lain termasuk juga Indonesia (Noer, 1980).
Poetry Mardika (1912)
Organisasi perempuan mandiri pertama di Indonesia yang tercatat dalam sejarah Kemerdekaan Indonesia adalah Poetri Mardika yang terbentuk pada tahun 1912. Sejak organisasi ini berdiri, banyakorganisasi perempuan lain yang juga berkembang dengan sangat cepat (Suryochondro, 1984). Organisasi ini berperan cukup baik dalam gerakan kemajuan kehidupan perempuan dan poetri mardika ini mendapat dukungan serta tunjangan dari Budi Utomo yang sangat mengutamakan pendidikan serta kebudayaan Indonesia (Vreede-de stuers, 2008). Tokoh-tokoh yang menjadi penggerak dalam organisasi ini adalah Sadikun Tondokusumo, R.R. Rukmini, Joyo Pranoto, R.A. Sutinah, dan P.A Subarudin.Istilah Poetri Mardika sendiri diambil dari kata Putri atau Perempuan yang mengharapkan adanya kemerdekaan dan kebebasan dalam kehidupan masyarakat Indonesia
Dengan dibentuknya organisasi ini bertujuan untuk membantu membimbing dan penerangan kepada para gadis-gadis pribumi dalam menuntut ilmu serta belajar memberikan pemikiran mereka di muka umum (Verelladevanka Adryamarthanino, 2021). Salah satu usaha untuk mencapai tujuan tersebut ialah dengan menerbitkan majalah bulanan Putri Mardika. Dengan melalui media tersebut diharapkan berbagai ide dan pemikiran maju bisa sampai kepada para perempuan di luar Jakarta (Ohorella, G. A., Sutjiatiningsih, S., & Ibrahim, 1992). Organisasi Poetri Mardika berfokus pada bidang pendidikan perempuan, dengan tujuan mendidik anak perempuan agar mereka mau memperoleh keterampilan untuk membuat mereka secara finansial independent. Beasiswa yang ditawarkan kepada anak perempuan memungkinkan anak perempuan dapat bersekolah (Amaliatulwalidain, 2018)
Pada pergerakan perempuan 25 tahun pertama itu yang bersifat memajukan dan memperjuangkan hak pendidikan, dan juga kemanusiaa serta mengarah ke perjuangan untuk menaikkan kedudukan perempuan dalam keluarga maupun masyarakat Indonesia (Suryochondro, 1984). Dengan begitu, hal ini sangat berkaitkan dengan harapan pada organisasi Poetri Mardika ini, karena lahirnya organisasi ini diharapkan dapat memajukan anak-anak perempuan dalam bidang pendidikan serta memperjuangkan kemerdekaan untuk para perempuan(Junaedhi, 1995).
Organisasi ini menjadikan R.A. Kartini sebagai inspirasi dalam bidang pendidikan yang menjadikan acuan visi dan misi organisasi ini, karena dengan pandangan dan gagasan yang dimiliknya sangat mempengaruhi pendidikan untuk para perempuan di Indonesia. Kenapa perempuan harus menuntut hak untuk memperoleh pengetahuan di bidang pendidikan, karena ketika pada masa kolonial perempuan dipandang lemah dan tidak mendapatkan keadilan.Oleh karena itu, dengan mendapatkan pendidikan para perempuan dapat dipandang lebih dan mendapatkan keadilan. Hal ini menjadi salah satu solusi untuk memajukan kesetaraan perempuan, dan memperjuangkan hak-hak perempuan (Vreede-de stuers, 2008).
Pada tahun 1915 organisasi ini telah menangani sekitar 7 orang anak, tahun selanjutnya bertambah menjadi 9 orang anak, dan hingga pada tahun 1919 berjumlah 6 orang anak. Dengan berkurangnya anak yang ditanggung organisasi tersebut dikarenakan ada yang melanjutkan ke MULO, ada juga yang berkeinginan untuk berhenti dan juga menikah (Yanti, 2020).
Organisasi Poetri Mardika ini merupakan organisasi yang adil dalam keagamaan, tetapi faktanya anggota organisasi ini mayoritas beragama islam. Dengan begitu, organisasi ini memperjuangkan agar para siswa mendapatkan pendidikan Islam di sekolahnya. Pada dasarnya organisasi ini tidak memiliki latar belakang atau yang belandaskan tentang keagamaan terutama agama islam dan organisasi terbuka untuk siapa saja tidak membeda-bedakan antar agama, tetapi organisasi ini tetap memperjuangkan pendidikan islam (Yanti, 2020). Setelah berdirinya Poetri Mardika, lambat laun banyak sekolah khusus perempuan bermunculan. Dengan begitu, Poetri Mardika ini telah memberikan dampak yang positif terhadap para perempuan Indonesia agar memperoleh pengetahuan dan pendidikan dengan lebih mudah.
Semakin lama semakin banyak terbentuknya organisasi perempuan di hampir seluruh kepulauan Indonesia, akan tetapi banyak juga organisasi yang tidak bertahan lama dan tidak diketahui kapan organisasi tersebut bubar (Blackburn, 2007). Begitu juga yang terjadi pada Poetri Mardika, organisasi ini bubar dengan tidak adanya keterangan yang pasti. Setelah tahun 1920, total organisasi perempuan terus bertambah. Dengan begitu kaum perempuan semakin menjadi lebih maju dan bertambah cukup luas sehingga tidak terjadi lagi kesetaraan pada kaum perempuan(Yanti, 2020).
Perserikatan Perkumpulan Perempuan Indonesia (PPPI) tahun 1928
Semangat persatuan dan kesatuan yang dimiliki oleh rakyat Indonesia dalam melawan bangsa kolonial yang semakin kuat, beberapa organisasi politik berkolaborasi untuk menuntut agar golongan pribumi diberikan kedudukan politik yang lebih baik (Fernandes, 2014). Dengan demikian, pada tanggal 28 Oktober 1928 semangat pemuda bangsa Indonesia sangat menggebu-gebu. Oleh karena itu, para kelompok pemuda mencetuskan Sumpah Pemuda dengan simbol Satu bangsa, Satu Bahasa, dan Satu Tanah Air. Dengan semangat persatuan nasional inilah yang menjadi acuan terciptanya Kongres Perempuan Indonesia pada tanggal 22 Desember 1928 yang dibuat karena gagasan dari para kaum perempuan di Yogyakarta.Terbentuknya kongres perempuan yang pertama ini atas gagasan dan ide dari tujuh organisasi pelopor pergerakan perempuan Indonesia di bawah pimpinan Raden Adjeng Sukonto, ketujuh organisasi itu ialah diantaranya;Wanito Oetomo, Wanito taman Siswo, Putri Indonesia, Aisyiah, Wanita Katholik, Jong Islamieten Bond dames Afdeeling (JIBDA), Jong Java Dames Afdeeling(A. Fatikhul Amin Abdullah, Muhammad Hadiatur Rahman, 2019).
Sejalan dengan perkembangan yang terjadi banyak perkumpulan-perkumpulan organisasi perempuan di seluruh Indonesia hingga tahun 1928 berjumlah kira-kira 50-100 perkumpulan. Namun, sayangnya pada saat berlangsungnya Kongres Perempuan Indonesia Pertama di Yogyakarta yang dapat menghadiri hanya tak kurang dari 30 organisasi. Walaupun demikian kongres ini dapat merumuskan tujuannya untuk menjalin pertalian antara perkumpulan-perkumpulan perempuan di seluruh Indonesia, dan agar dapat membicarakan soal kewajiban perempuan, keperluan dan kemajuannya secara bersama-sama(G.A. ohorella, Sri Sutjiatiningsih, 1992). Adapun yang dibahas dalam kongres pertama ini ialah tentang kedudukan perempuan dalam perkawinan serta pendidikan.
Dari keputusan kongres tersebut salah satunya ialah dibentuknya federasi bersama yang dinamakan Perikatan Perkumpulan Perempuan Indonesia (PPPI). Perkumpulan ini adalah perwujudan dari cita-cita kaum perempuan yang menjadi bagian dalam perkumpulan ini, dengan tujuan untuk mengadakan persatuan yang lebih besar lagi sehingga dapat melakukan kerja sama dan menjaga kedudukan perempuan agar lebih kuat dalam kemajuan kaum perempuan (Suryochondro, 1984). Organisasi ini berdiri karena sebagi tanggapan terhadap diskriminasi yang dialami perempuan Indonesia di masyarakat, dan sebagai upaya untuk memperjuangkan hak-hak perempuan Indonesia. Namun, pada awalnya PPPI ini hanya berdiri dari sekelompok perempuan-perempuan terpilih yang terlibat dari kegiatan sosial dan kemanusiaan. Dengan sering berjalannya waktu, organisasi ini mulai mengembangkan
Important Info

The order was placed through a short procedure (customer skipped some order details).
Please clarify some paper details before starting to work on the order.

Type of paper and subject
Number of sources and formatting style
Type of service (writing, rewriting, etc)

For This or a Similar Paper Click To Order Now

What Will You Get?

We provide professional writing services to help you score straight A’s by submitting custom written assignments that mirror your guidelines.

Premium Quality

Get result-oriented writing and never worry about grades anymore. We follow the highest quality standards to make sure that you get perfect assignments.

Experienced Writers

Our writers have experience in dealing with papers of every educational level. You can surely rely on the expertise of our qualified professionals.

On-Time Delivery

Your deadline is our threshold for success and we take it very seriously. We make sure you receive your papers before your predefined time.

24/7 Customer Support

Someone from our customer support team is always here to respond to your questions. So, hit us up if you have got any ambiguity or concern.

Complete Confidentiality

Sit back and relax while we help you out with writing your papers. We have an ultimate policy for keeping your personal and order-related details a secret.

Authentic Sources

We assure you that your document will be thoroughly checked for plagiarism and grammatical errors as we use highly authentic and licit sources.

Moneyback Guarantee

Still reluctant about placing an order? Our 100% Moneyback Guarantee backs you up on rare occasions where you aren’t satisfied with the writing.

Order Tracking

You don’t have to wait for an update for hours; you can track the progress of your order any time you want. We share the status after each step.

image

Areas of Expertise

Although you can leverage our expertise for any writing task, we have a knack for creating flawless papers for the following document types.

Areas of Expertise

Although you can leverage our expertise for any writing task, we have a knack for creating flawless papers for the following document types.

image

Trusted Partner of 9650+ Students for Writing

From brainstorming your paper's outline to perfecting its grammar, we perform every step carefully to make your paper worthy of A grade.

Preferred Writer

Hire your preferred writer anytime. Simply specify if you want your preferred expert to write your paper and we’ll make that happen.

Grammar Check Report

Get an elaborate and authentic grammar check report with your work to have the grammar goodness sealed in your document.

One Page Summary

You can purchase this feature if you want our writers to sum up your paper in the form of a concise and well-articulated summary.

Plagiarism Report

You don’t have to worry about plagiarism anymore. Get a plagiarism report to certify the uniqueness of your work.

Free Features $66FREE

  • Most Qualified Writer $10FREE
  • Plagiarism Scan Report $10FREE
  • Unlimited Revisions $08FREE
  • Paper Formatting $05FREE
  • Cover Page $05FREE
  • Referencing & Bibliography $10FREE
  • Dedicated User Area $08FREE
  • 24/7 Order Tracking $05FREE
  • Periodic Email Alerts $05FREE
image

Our Services

Join us for the best experience while seeking writing assistance in your college life. A good grade is all you need to boost up your academic excellence and we are all about it.

  • On-time Delivery
  • 24/7 Order Tracking
  • Access to Authentic Sources
Academic Writing

We create perfect papers according to the guidelines.

Professional Editing

We seamlessly edit out errors from your papers.

Thorough Proofreading

We thoroughly read your final draft to identify errors.

image

Delegate Your Challenging Writing Tasks to Experienced Professionals

Work with ultimate peace of mind because we ensure that your academic work is our responsibility and your grades are a top concern for us!

Check Out Our Sample Work

Dedication. Quality. Commitment. Punctuality

[display_samples]

It May Not Be Much, but It’s Honest Work!

Here is what we have achieved so far. These numbers are evidence that we go the extra mile to make your college journey successful.

0+

Happy Clients

0+

Words Written This Week

0+

Ongoing Orders

0%

Customer Satisfaction Rate
image

Process as Fine as Brewed Coffee

We have the most intuitive and minimalistic process so that you can easily place an order. Just follow a few steps to unlock success.

See How We Helped 9000+ Students Achieve Success

image

We Analyze Your Problem and Offer Customized Writing

We understand your guidelines first before delivering any writing service. You can discuss your writing needs and we will have them evaluated by our dedicated team.

  • Clear elicitation of your requirements.
  • Customized writing as per your needs.

We Mirror Your Guidelines to Deliver Quality Services

We write your papers in a standardized way. We complete your work in such a way that it turns out to be a perfect description of your guidelines.

  • Proactive analysis of your writing.
  • Active communication to understand requirements.
image
image

We Handle Your Writing Tasks to Ensure Excellent Grades

We promise you excellent grades and academic excellence that you always longed for. Our writers stay in touch with you via email.

  • Thorough research and analysis for every order.
  • Deliverance of reliable writing service to improve your grades.
Place an Order Start Chat Now
image